Greed Is Good

Mereka minta kuitansinya dinaikkan,pak. Katanya sih untuk dibagi-bagi di antara mereka.  Jika tidak dikabulkan, pembelian batal.

Greed Is Good, kata Gordon kepada Bud Fox.
Sebuah film yang bagus. Penggambaran sifat dasar manusia paling tua,serakah, begitu memukau dan elegan di dalam diri Gordon Geyko. Tak kurang hebatnya juga pergumulan batin seorang Bud Fox dalam usaha menemukan jati diri kemanusiannya.


Sampai kapan ini semua berakhir?, tanya Bud kepada mentornya. Well, memang tiada pernah akan berakhir. Sekali manusia menapak jalan keserakahan, luar biasa sulitnya untuk keluar dari jalan itu. Kalaupun mampu keluar, too many damages, too many hurts.

Pernah suatu kali, salah satu tim penjualan menghadapku didampingi team leadernya. Pak, katanya, ada sebuah BUMN ingin membeli 25 paket produk kita. Selamat, kataku. So, why so gloomy ? What’s the problem?.
Mereka minta kuitansinya dinaikkan,pak. Katanya sih untuk dibagi-bagi diantara mereka, jawab si team leader. Jika tidak dikabulkan, pembelian batal, lanjutnya.
That’s the problem.
Selama kalian bekerja disini, pernah tidak kalian tidak bisa makan tiga kali sehari?, tanyaku kepada mereka. Tidak pernah,pak.
Ya sudah, kalau kita sudah tidak bisa makan tiga kali sehari, kalian boleh melakukan hal itu. Tapi, jika tidak,.. never.. ever.. memulai melakukan sesuatu yang nantinya akan kita sesali.
Seminggu kemudian, dua orang tadi kembali menghadapku. Pak, kata mereka, BUMN yang dulu oknumnya minta dinaikkan kuitansi, akhirnya tetap beli paket kita, tanpa syarat apa pun.

Greed is Good, but Patience is Better.

Half Evil Half Angel

 

 Kalau mau ke kiri, ya jadi iblis sekalian, kalau mau ke kanan ya jadi manusia yang paling bermanfaat sekalian.

Siang itu aku kedatangan tamu seorang sahabat yang sudah belasan tahun tidak berjumpa. “Aku mau belajar,nih pak,” katanya. Wah, njanur gunung. Entah angin apa yang membuat sahabat saya ini, wakil pimpinan kelompok usaha seorang kyai kondang, mau belajar padaku.

Belajar apa, tanyaku setelah bernostalgia waktu masih jadi kaypang dulu. Belajar menjadi seorang konsultan, katanya. Ting..a..ling..a..ling kontan indra lebahku berdering-dering. Sebentar, seorang yang saya dengar sudah malang melintang di dunia bisnis, ada penerbitan, ada trading bahkan konon sudah masuk ke bisnis layar kaca, mau belajar soal bisnis konsultan.

Dengan lancar dia bercerita kalau kelompok usaha tempat dia menjadi wadirut sedang giat-giatnya mengembangkan unit usaha baru. Saat kutanya, bagaimana sih model pengembangan bisnisnya, dia mencontohkan unit usaha baju muslim. Kelompok mereka memulai dengan menghubungi produsen baju muslim yang sudah ada. Lalu dilakukan kerjasama dengan cara melabeli produk produsen tadi dengan brand kelompok sahabat saya tersebut. Produsen tadi biasanya senang, kata sahabat saya, karena label kelompok mereka menjanjikan pasar yang bagus. Maklum, bosnya memang terkenal ke seluruh antero nusantara. Lha, kalau misalkan produk tadi sudah tidak diminati?, tanya saya. Ya seperti layaknya sebuah bisnis lainnya, ya diterminasi, dicut, diamputasi, karena kalau dibiarkan akan menumpuk kerugian, katanya. Klontang…klontang… indra lebah saya makin keras berdentang-dentang.

Mas, kata saya kepada sahabat tadi, jangan bikin konsultan deh. Lebih lagi, tolong model bisnis yang tadi diubah,deh.. kalau nggak sebentar lagi ambruk,lho. Hah, ambruk.. kenapa? tanya sahabat saya tidak percaya sekaligus ingin tau.
Jangan berbisnis dengan cara membuat orang lain hancur hatinya. Lho,kok? Bayangkan,lanjut saya. Produsen produk tadi biasanya adalah UKM yang memang butuh bantuan, terutama pemasaran. Lalu sampeyan yang melihat produk tadi memang bagus dan berkualitas, datang menawarkan untuk menjualkan produknya. Tentu saja ini adalah pucuk dicinta ulam tiba bagi si produsen. Apalagi memang terbukti penjualan kelompok usaha sampeyan luar biasa. Penjualan produk tadi meningkat drastis. Si Produsen menambah lagi alat kerja dan merekrut banyak karyawan baru. Dunia terasa terang benderang. Tetapi saat angin berbalik arah,musim berganti, penjualan menjadi sangat sulit. Dan sampeyan datang lagi, kini bukan untuk mengajak bergabung, tetapi untuk mengajak berpisah.

Bayangkan betapa hancur hati si produsen, melihat begitu banyak tumpukan stok barang belum laku, terbayang cicilan hutang pembelian alat sembari ditatap oleh puluhan pekerja yang sudah jelas nasibnya,PHK.
Jangan deh,mas, kata saya. Kecuali kalau kelompok usaha sampeyan bisa menampung karyawan mereka, mencarikan jalan keluar bagi kepusingan si produsen, lebih baik jangan diteruskan. Atau lebih tepatnya jangan dimulai.
Sayang, lanjut saya, malah nantinya usaha kelompok mas yang sudah bagus, bakalan ambruk. Kalau perlu saya ngomong deh langsung ke bos sampeyan jika sedang di Jakarta. Eman-eman.

Sahabat saya terdiam. Tidak mengiyakan tetapi juga tidak menyangkal.
Beberapa waktu kemudian, saya dengar sahabat saya tadi meninggalkan kelompok usaha bosnya, dan memulai usahanya sendiri.

Dalam berkarya janganlah tanggung-tanggung. Kalau mau ke kiri, ya jadi iblis sekalian, kalau mau ke kanan ya jadi manusia yang paling bermanfaat sekalian.

Sang Penghasut - bagian 2 (Tamat)

Komik 32 halaman, tapi uploadnya lemot, jadi nyicil *hiks

sang-penghasut11.jpgsang-penghasut12.jpgsang-penghasut13.jpgsang-penghasut14.jpgsang-penghasut15.jpgsang-penghasut16.jpgsang-penghasut17.jpgsang-penghasut18.jpgsang-penghasut19.jpgsang-penghasut20.jpgsang-penghasut21.jpgsang-penghasut22.jpgsang-penghasut23.jpgsang-penghasut24.jpgsang-penghasut25.jpgsang-penghasut26.jpgsang-penghasut27.jpgsang-penghasut28.jpgsang-penghasut29.jpgsang-penghasut30.jpgsang-penghasut31.jpgsang-penghasut32.jpg

Sang Penghasut - bagian 1

Komik 32 halaman, tapi uploadnya lemot, jadi nyicil *hiks

sang-penghasut1.jpgsang-penghasut2.jpgsang-penghasut3.jpgsang-penghasut4.jpgsang-penghasut10.jpgsang-penghasut5.jpgsang-penghasut6.jpgsang-penghasut7.jpgsang-penghasut8.jpgsang-penghasut9.jpg

Uang Jangan Dicari, Kalau Bersua Janganlah Lari

Sungguh hebat kawan yang satu ini. Saat kami-kami masih bajingan eh bujangan, saat untuk makan saja masih harus ngutang warteg depan kampus, dia sudah sedemikian makmurnya. Sebut apa saja dan dia bisa dipastikan punya, atau paling tidak kalau dia mau apa saja itu, pasti bisa dimilikinya. Mobil saja, ada tujuh, tentu saja termasuk dua yang atapnya bisa membuka sendiri jika sebuah tombol dipijit.
Tanah ? Tidak kurang dari 300 hektar. Rumah ? Wah, seminggu juga kurang untuk bergiliran menyambanginya.
Pokoknya paling tajir,dah.

Namun seperti cerita sinetron-sinetron, setelah 5 tahun kami tidak berjumpa, kawan ini muncul dengan mobil yang atapnya juga terbuka. Tapi kali ini bukan jenis keluaran pabrik  berlogo bintang, namun pabrik sebelahnya yang bersimbol dua huruf akhir deretan alpabhet kita. Wajahnya kelihatan lebih tua, hitam namun masih meninggalkan aroma sisa kejayaan.
Habis, katanya pendek membuka pembicaraan. Tentu saja aku dibuat terperangah tidak percaya. Bagaimana gelimang dunia sedemikian banyak bisa habis hanya dalam satu repelita saja? Sungguh otak kereku tidak dapat menemukan cara bagaimana menghabiskan harta itu.
Maka ngalor ngidul tumpah ruah kisah perjalanan hidup lima tahun tidak berjumpa.
Rupanya investasinya ditipu orang yang selama ini menjadi tangan kanannya. Tak terasa bahkan saat ini, hutang yang ditinggalkan atas nama kawan ini sudah em-em-an. Mpot-mpotan memang.

Dia juga bercerita bagaimana menjalani dunia pintas demi membayar hutang-hutang tadi. Dimulai dengan bertapa di tengah hutan mencari wangsit, dan sampai tiga kali bertapa wangsitnya itu-itu juga. Diminta meninggalkan jalan pintas oleh almarhum ayahanda. Tetapi kawan yang kepepet ini mana mau mendengarkan nasehat yang tidak membuat lunas hutangnya ini. Dia lalu berguru ke pantai utara, untuk mendapatkan ilmu pengubah daun menjadi uang. Ritual akhir berendam di lautan nanah dijalani dengan baik. Walaupun meninggalkan rasa jijik sampai saat ini, daun digenggam pun sekejap berubah menjadi uang. Tapi mana tahan, sekali genggam cuma dapat selembar duapuluh ribuan, padahal utang em-em-an. Sedangkan resiko babak belur kalau ketahuan saat membelanjakan uang tadi selalu ada. Lalu dikenalnya orang yang mau membantu lewat bermain judi. Asal orang tersebut ada disisinya, pasti kawan kita ini menang judi. Tidak peduli sehebat apapun bandarnya. Sayangnya, saat merasa di atas angin, kawan kita berjudi sendirian, tanpa didampingi orang tadi, ya kacaulah jadinya.

Ketika didengarnya kabar ada seorang dalang di kota berwaduk bisa mendatangkan kekayaan dengan cepat, maka dicarinya dalang tadi. Setelah bertemu, dan menyampaikan niatnya, kawan kita disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan kecil, lembab, gelap tanpa sinar lampu menjadi terang benderang bersamaan munculnya sesosok seram bertubuh tinggi besar. Singkat kata di dalam kamar terjadi negosiasi. Sedus uang yang berlebih untuk membayar utang, ditukar dengan sosok ibundanya. Diajukan oleh kawan tadi nama-nama pengganti, tetapi tetap sosok hitam meminta ibundanya.

Maka pulanglah kawan tadi dengan tangan hampa. Namun godaan sampai ke tujuan dengan segala kemudahan terus menggelayuti pikiran kawan kita. Dicarinya mantan narapidana untuk bekerjasama. Fifty-fyfty. Nothing to loose. Maka malam itu gantian mantan napi masuk ke ruangan kecil itu. Cuman bertahan 5 detik. Di hadapannya terpampang istri dan anaknya berada dalam gandengan tangan sosok penghuni kamar. Tanpa sadar disebutnya Nama Allah, dan detik itu juga mantan napi tadi terlempar keluar kamar. Rupanya dia lupa pesan si empunya rumah, jangan pernah menyebut Nama Allah di dalam sana.
Gagal sudah segala daya upaya mengunduh sedus uang dari dalam kamar.

Dan siang itu kawan tadi menutup ceritanya dengan satu kalimat yang menarik,
“Betapa sesatnya aku ini, seorang napi saja  bisa mengucapkan Nama Allah di dalam sana..”

Jakarta Under Price

Biasa cuman pakai kaos dan jin, bahkan sarungan kalau ke kantor, ee..tiba-tiba harus berdasi rapi. Mau bagaimana lagi, lha wong hari itu diundang presentasi di depan dirut BUMN. Terpaksa baju panjang dan dasi sepuluh ribu tiga dikeluarkan dari gantungan.

Maka setelah lewat jam three in one, buru-buru tancap gas ke bilangan Semanggi.
Alamak… macetnya. Jakarta memang selalu memanjakan para entreprenur . Simak saja, baru sampai belokan Kuningan saja sudah berjejer wirausahawan kuliner (Tahu Sumedang, krupuk udang), pengusaha media (majalah,koran, tabloid), dan berbagai manager marketing menawarkan macam-macam produk. Mobil-mobil jalannya kayak uler keket. Wah alamat terlambat,nih.

Mobil akhirnya diparkir di LIPI. Daripada memutar ke Semanggi, mendingan ngalahin jalan kaki lewat jembatan penyeberangan.
Dasi rasanya mencekik leher, bikin tambah gerah. Rasanya sudah gatel pengin nglinthing lengan panjang. Alfa Bravo Bravo (apa boleh buat).

Pas di jembatan penyebrangan, ada bapak pengusaha minyak tanah sedang kebingungan. Rupanya baru keluar dari pangkalan nih. Blek minyak tanah, ada kalau cuman 10 biji, penuh semua. Ya tentu saja beliau kebingungan, mendorong gerobak naik jembatan penyeberangan,berat mek. Tak seorang pun dari kerumunan para penunggu bis di halte peduli dengan kebingungan bapak pengusaha tadi. Peduli ? Menengok pun nggak.
Tanpa ba bi bu, kubantu mendorong gerobak sampai di atas jembatan. Weh, lumayan juga (beratnya..)

Tanpa ba bi bu pula, pengusaha tadi mengeluarkan isi dompetnya (sepintas isinya kayaknya nggak sampai sepuluh ribu dolar eh rupiah deh..), mencabut selembar ribuan kumel dan mengulurkannya kepadaku sambil berkata,”..ini ongkosnya,dik..“.

Ha..ha..ha.. berbaju lengan panjang dan berdasi rupanya tidak kuasa menyembunyikan tampang mlarat ini.
Seceng,cing. Jeli juga mata pengusaha yang satu ini.

Sambil ngeloyor, aku agak sedih juga. Jakarta, ibunya para kota, rupanya telah hilang sense keibuannya. Duh…. cuman seceng..

P l u n g

Bagaimana hati bisa tahan melihat selang sebesar jempol kaki masuk ke dalam mulutnya.
Bagaimana hati tidak remuk melihat begitu banyak kabel menempel di seluruh badan.
Bagaimana hati tidak kelam melihat berjam-jam wajah pucat bermata cekung itu selalu terpejam.
Bagaimana hati tidak menangis membayangkan tangan mungilnya menggapai-gapai dalam kesendirian.
Bagaimana hati tidak berhenti berdetak menghitung napasnya yang lembut tapi satu-satu.
Bagaimana hati tidak mendelu mendengar tangis tanpa suaranya.

……………………p l u n g ……………………..

bagaimana tidak hati rasanya seperti kecemplung sumur maha dalam

Ayahku kerjanya buat buku. Ayahku pulangnya malam. Dan bangunnya siang.
Walah si Bungsu ini kok nulis begitu ya di buku PR mengarang tentang keluarga. Jadi tengsin nih kalau njemput ke sekolah.

Walaupun sisa-sisa kecengengan masih melekat, namun setidaknya sekarang si Sulung pun dilawan. Lihatlah betapa manisnya saat dibilang : O…putriku..yang paling cantik se………
Lalu dengarkan geramannya saat pujian itu diteruskan : …..se..empang.
Emang aku putri kodok katanya sambil melotot. Duhai,  bahkan saat sedang melotot pun tak berkurang-kurang rasa syukur kami melihat si Bungsu sudah sehat kembali.
Alhamdulillah, saat terakhir kontrol, dokter bilang sudah tidak ada rembesan atau gangguan di jantung mungilnya.
Alhamdulillah, masih kami diberi kepercayaan untuk setiap hari membisikkan nak,jadilah orang yang baik di telinga si Bungsu selagi tidur.

I wish God hadn’t create women

 

 

“…I wish God hadn’t create women…”

 Kalimat di atas adalah petikan percakapan 3 generasi wanita di Afganistan dalam sebuah film yang membuat saya menangis lagi setelah malam sebelumnya terisak-isak menonton sebuah film horror.

Sungguh menyedihkan mendengarkan kalimat di atas keluar dari mulut mungil seorang wanita. Makin pilu karena ucapan tadi bukan terdorong oleh rasa benci terhadap wanita, namun ungkapan keputusasaan karena kaumnya tidak dianggap sebagai manusia. Ingin rasanya segera,kalau bisa, mengambil penghapus untuk menyetip negeri ******* itu dari muka bumi. Namun, keinginan itu segera musna setelah teringat bahwa BigBoss tidak akan pernah memperkenankan sesuatu terjadi jika tidak mempunyai rencana yang sempurna.
Paling tidak, hal ini semestinya membuat para wanita di negeri kami mengungkapkan rasa syukur dengan cara menjaga harkat dan martabatnya, serta makin giat mendidik putra-putrinya dengan penuh harapan agar di masa mendatang, ucapan tadi tidak pernah lagi terdengar di muka bumi.

Lets (not) judge the book by it’s cover

Om Nasarudin geregetan pada para pelayan waktu makan di restoran. Lha perut sudah keruyukan tapi dari tadi disodori menu pun tidak. Rupanya penampilan ndheso si Om nggak direken oleh para pelayan. Pikirnya paling pesen nasi rames plus teh tawar. Benar saja, setelah lama menunggu, Om Nasarudin pesan nasi rames plus teh tawar. Setelah makan dan membayar di kasir, si om mencari pelayan yang menjengkelkan hatinya tadi. “Nih, tip buat kamu,” kata si Om sambil menyorongkan uang limaribuan. Tentu saja si pelayan tadi terkejut bercampur gembira, mendapatkan rejeki nomplok dari si Om. Pikirnya, wah.. walau pun dekil dan cuman makan rames, tapi tipnya gedhe juga. Langsung saja wajah jutex dan cemberut si pelayan berubah berbinar-binar.

Suatu hari si Sulung nyeletuk, “Wah, kalau kita naik mobil Ayah, nyari parkirnya jadi mudah..” O.. rupanya dia mengamati kalau teman-teman petugas parkir akan buru-buru menawarkan mencari tempat lowong, nggak seperti kalau dia naik mobil ibunya. Iya juga,sih.
Lha, pantesan aja tadi pagi waktu nganter si dia, masih pakai sarung dan naik motor, satpam kompleks sebelah yang aku kasih salam dengan anggukan kepala dan senyuman, cuman diem aja. Beda banget kalau pas nganternya pakai mobil. Kontan dari jauh pak satpam yang sama akan mengangkat tangan seperti tentara menghormat komandannya. Padahal dapat dipastikan dia tidak akan melihat muka kita, lha wong kaca filmnya item bener.
Jadi inget, pernah mau presentasi di sebuah gedung stasiun tv, eh.. sampai disana tidak boleh masuk karena nggak pakai sepatu. Yo wis, ..pulang.
Atau sering kalau ke warung beli teh botol, si empunya warung nanya, “..mau beli apa,koh..”
Atau kalau pas ada tamu datang ke kantor, setelah salaman kalimat pertamanya adalah, “..o.. saya pikir bapak sudah tua..” Jadi rupanya nama saya nama AMG (angkatan mbah gue).
Yang paling sebel memang kalau lagi ke toko buku, petugas toko perasaan ngikuti terus atau paling tidak sebentar-sebentar nongol,ngecek. Kali dipikirnya penampilan saya patut dicurigai,ya.

Lain hari Om Nasarudin makan lagi di restoran tadi. Tentu saja pelayan-pelayan berebutan melayani si Om. Tentu saja puas hati si Om, dan makan pun jadi enak. (eh, sebentar… kok kayak iklan, ya..)
Setelah selesai bayar, si pelayan tanpa dipanggil sudah berdiri dengan sopan dan senyum lebar. Si Om mengulurkan sekeping limaratus perak sambil berkata, “Ini tip buat pelayananmu hari itu, sedangkan tip kemarin itu untuk pelayananmu hari ini.”

Saat mata menatap

Saat mata-mu menatap sesuatu, apa yang kau lihat?

Saat mata-mu menatap wanita muda menggendong anak lusuh di pinggir jalan menengadahkan tangan, kau lihat seorang yang malas bekerja dan kau tolehkan pandanganmu, atau kau lihat kesempatan untuk menolong seseorang dan kau lambaikan tanganmu?

Saat mata-mu menatap daun jatuh dari pohon, kau lihat selembar sampah menambah kotor halamanmu dan kau biarkan berserak, atau kau lihat dirimu yang tak tahu kapan akan luruh dari pohon hidup dan kau sapu hatimu?

Saat mata-mu menatap matahari dan bulan, kau melihat sumber cahaya yang memerahkan retina dan kau pejamkan mata-mu, atau kau lihat kebesaran yang tidak berwujud dan kau tundukkan batin-mu?

Saat mata-mu menatap wujud keberhasilan orang lain,  kau lihat istana kemuliaan duniawi dan kau inginkan diri-mu berada disana, atau kau lihat gunung syukur yang menyesaki dada dan kau perlama sujud-mu?

Saat mata-mu menatap sesuatu, apa yang kau lihat?

Opera anak “Hilangnya Unicorn”

 

Alhamdulillah.

Setelah dagdigdug berbulan-bulan, akhirnya nafas lega berhembus dari mulut dan hidung panitia. “Kalau setelah setengah jam pertunjukkan para penonton tidak beranjak, berarti boleh dibilang oke,” demikian patokan yang dibuat sendiri oleh panitia. Walhasil dagdigdug panitia memperhatikan raut wajah penonton saat setengah jam pertama. Senyum lebar, ketawa haru, peluk riang dan jabat tangan menandai rasa plong panitia saat setengah jam berlalu dan penonton tidak satu pun beranjak pergi. Padahal saat itu hawa panas begitu terasa. Namun anak-anak terlihat sangat antusias memusatkan perhatian ke arah panggung.

Empat bulanan yang lalu, saat ide pembuatan opera anak dilontarkan, hampir semua yang mendengar terdiam karena merasa nggak sanggup. Mengapa ? Karena memang tidak ada satupun pasukan PL yang pernah terlibat pembuatan opera anak. Jangankan terlibat, sebagian besar dari mereka masih bingung dan bertanya-tanya, kayak apa sih opera itu?
Saat tim kecil dibentuk untuk sounding ke sekolah dan pihak calon sponsor pun bisa dikatakan menemui hambatan. Pihak sekolah dan calon sponsor tidak yakin kalau PL mampu membuat pementasan opera. Namun berkat kegigihan dan kenekatan tim kecil ini, para calon sponsor berhasil diyakinkan dengan banyak catatan, antara lain tidak mau mengalokasikan budget alias nyomot sana-sini. Untunglah yang sedikit-sedikit tadi kalau dikumpulkan jadi banyak juga. Sementara itu, hampir semua pihak sekolah menolak untuk berpartisipasi dalam acara ini. Alasannya sih macam-macam. Masuk akal sih, karena memang tim PL sendiri pun sebenarnya dari awal juga belum yakin.

Saat tim sekolah dan sponsor mulai bergerak, tim produksi juga segera menyiapkan diri. Karena belum pernah bikin, tim ini keliling bertanya-tanya kepada banyak pihak tentang bagaimana cara membuat sebuah opera. Mulai ngobrol dengan Jose Rizal Manua, mantan crew Shangrila sampai dengan rektor IKJ Mas Sardono. Hasilnya ? Kepala tambah mumet, karena ternyata sebuah pementasan anak sangat ruwet persiapannya.
Mengumpulkan 75 anak saja sudah menjadi masalah tersendiri. Setelah kelimpungan kesana-kemari, diperoleh puluhan anak-anak SD sekitar Pasar Minggu yang sama sekali belum pernah kenal drama atau menari, apalagi pentas. Jadwal latihan yang sudah disusun rapi pun sering tidak terpenuhi karena anak-anak kadang tidak datang latihan. Untunglah setelah para orangtua mereka diajak ngobrol, latihan menjadi rutin. Latihan dipandu oleh Aldri dan Zul dari IKJ, serta Mislam dari ISI Jogja.

Pembuatan lagu mengalami masalah yang tidak kalah memusingkan. Keinginan untuk membuat lagu bernuansa “full orkestrasi” tapi minimal budjet membuat para “komposer” dadakan berakrobat setiap hari. Ketidak siapan memilih penyanyi anak, membuat skedul berantakan. Belum masalah take vokal di studio ternyata bocor dan harus diulang-ulang. Atau vokal si anak tidak pas suaranya. Walhasil lagu pementasan berdurasi 72 menit baru selesai saat pementasan kurang empat hari. Mpot-mpotan deh.

Alhamdulillah, Minggu pagi 27 Juli 2008 acara berlangsung lancar. Pasar Seni Ancol yang biasanya senyap dari pengunjung tiba-tiba disesaki oleh ratusan keluarga. Pihak sponsor yang ditanyai pendapatnya mengaku puas dan insya Allah mereka akan terus mendukung acara seperti ini. Bahkan ada pihak yang ingin menjadi sponsor tambahan. Pihak Ancol selaku pemilik venue juga mengaku puas dan tak menyangka acara ini bisa penuh sesak.

Alhamdulillah, Pementasan kedua tanggal 10 Agustus 2008 dan ketiga tanggal 24 Agustus 2008 berjalan baik, walaupun sempat bermasalah saat persiapan.
Mudah-mudahan acara seperti ini bisa menjadi pemicu teman-teman penyelenggara yang lain untuk menyelenggarakan acara serupa di seluruh Indonesia.
Tim PL sendiri menjadi pede untuk merealisasikan target semula, yaitu menghadirkan pentas opera anak di seluruh Jabotabek setiap minggu.

Foto di Antara, klik disini.

The World Is Not Enough

Dalam sebuah film, seorang ahli R&D menasehati si agen rahasia,

                               “..Always have an escape plan..”

Kalimat ini memang seakan-akan telah menjadi prinsip yang mendarah daging bagi setiap ilmuwan. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk sampyuh atau menang tetapi terus mati. Dia mau menerima kegagalan atau bahkan kekalahan sekalipun. Lebih memilih mundur untuk kemudian memulai lagi. Bagi-nya, mati adalah kekonyolan yang harus dihindari, karena mati berarti hilangnya kesempatan untuk mencapai tujuan akhir.

Dia pun tidak merasa perlu memperoleh ketenaran atau kemashyuran atau tatapan mata kagum dari orang lain. Bahkan tidak berkurang etosnya jika si agen jagoan tidak mengucapkan terimakasih sekali pun. Baginya suksesnya misi dan kepulangan sang jagoan dengan selamat ada di atas segala-galanya.

Rencana Pementasan Operet “Penyelamatan Unicorn” memasuki babak menentukan. Ketidak siapan karena belum pernah punya pengalaman membuat operet menyebabkan melesetnya rencana-rencana yang telah dibuat. Lagu belum siap, tarian belum lengkap, buku belum selesai digambar dan naskah belum tuntas dikerjakan. Ditambah hutang pekerjaan bulan lalu, menyebabkan ruang gerak yang sudah sempit makin sesak.

Akhirnya ya harus mengambil worst case scenario alias exit strategy. Maka sudah dapat dipastikan sebulan ini bakalan berjibaku koprol bambu menghadapi situasi. Langkah awal memutuskan memakai buku operet untuk 2 tujuan, operet dan paket tahunan. Lalu barisan artis dikumpulkan, dipilih yang terbaik dan diplot untuk menyerbu gambar spread 48 halaman hanya dalam 6 hari termasuk hari Minggu. Sisa pasukan dirapatkan menjaga agar target bulanan tidak ada yang lolos.
48 halaman spread gambar dipelototi satu persatu. Dari mulai penetapan standar seperti gambar di atas, background, gesture, komposisi letak, arah tatapan mata, teknik pewarnaan, pilihan font, standar swacthes, disain layout sampai soul keseluruhan halaman.

Problem pembuatan lagu ternyata juga tidak kalah rumit, mengingat para kreatornya ternyata memang tidak memiliki cukup input dan referensi tentang lagu operet anak.
Walhasil kalang kabutlah memilih standarisasi lagu sesuai dengan situasi adegan.
Lagu dipilih “full” orkestrasi, mulai yang harus beraroma royal keningratan sampai yang diselimuti backing vokal u.uu..uu…uuuu agar menaburkan magis kesedihan.

Jibaku Pol-polan ini memang harus dilakukan, mengingat event ini harus menjadi pijakan event-event serupa setiap minggu di tahun 2009 nanti.
Dengan segala keterbatasan, upaya maksimal memang akhirnya disandarkan pada exit strategy Sang Maha Ilmuwan buat para wayang seperti kita ini.

Who am I?

Your EQ is 147

You are remarkable when it comes to relating with others. Only the biggest losers get under your skin.You are warm and open. Even when life gets you down, you’re unafraid of the world and its challenges.
You are comfortable with who you are. And you accept your weaknesses - as well as the weaknesses of others.

While you are quite stable, you don’t respond perfectly to every bad situation that comes up.
But you have enough emotional intelligence to know when you need a course correction.
WHO AM I?

Your Risk Taking Level: Medium
What’s life without a few risks?
You’re willing to be daring when the time is right.
You know that there’s no reward in life without risk.
You just always make sure that you look before you leap.

WHO AM I?

You Are in the Genital Stage of Development

According to Dr. Freud, you’ve reached the genital stage of development.
Whatever issues you may have had in your childhood have been resolved.
You don’t have any hang ups, and you are able to function as a stable adult.
You are the model of being well-adjusted, and you are able to balance your life beautifully.
WHO AM I?

Your Independence Level: High You are extremely self reliant and autonomous.
You are definitely into doing your own thing.
But you also wouldn’t turn down help if you needed it.
You follow your own path, but you don’t do so blindly.
WHO AM I?

What Your Flip Flops Say About You You are super laid back and peaceful. Not much disturbs you.
You’re content with what you have in life, and you can’t stand feeling worked up.

A lot of good things tend to come your way in life…
You’re not too busy or stressed to let an opportunity pass you by.

Your ideal warm weather place: Hawaii
WHO AM I?

What Your Taste in Music Says About You Your musical tastes are upbeat and conventional.
You are an easy going, optimistic person.

Family and friends are very important to you.
You enjoy caring for and helping other people.

You thrive in a tranquil environment, and you do your best to keep things peaceful.
You enjoy your life. You have your priorities straight.
WHO AM I?

Your Response is: Stay Calm You don’t have much of a fight or flight response.
In fact, you rather do neither. You don’t like getting worked up.

You are able to approach most threats calmly and rationally.
You don’t let your emotions get the best of you!
WHO AM I?

You Are a Salty Person When it comes to snacks, you’re more likely to grab a bag of chips over a bag of cookies.

There’s a good chance you’re male (men prefer salty snacks)…
Or at least, you feel very comfortable in male dominated environments.

Your taste tends to be complex, sophisticated, and adult.
You tend to crave your favorite restaurant meal… or mom’s cooking.
WHO AM I?

Your Body’s Element is Water You are a joyful, relaxed, and luminous person.
You love people. You live for making new friends and helping others.

You are enthusiastic and the ideal person to work with.
You don’t mind doing hard tasks, and you have a generous spirit.

Your energy tends to be: conserved

You power color is: black
WHO AM I?

Your Five Factor Personality Profile Extroversion:

You have medium extroversion.
You’re not the life of the party, but you do show up for the party.
Sometimes you are full of energy and open to new social experiences.
But you also need to hibernate and enjoy your “down time.”

Conscientiousness:

You have high conscientiousness.
Intelligent and reliable, you tend to succeed in life.
Most things in your life are organized and planned well.
But you borderline on being a total perfectionist.

Agreeableness:

You have medium agreeableness.
You’re generally a friendly and trusting person.
But you also have a healthy dose of cynicism.
You get along well with others, as long as they play fair.

Neuroticism:

You have low neuroticism.
You are very emotionally stable and mentally together.
Only the greatest setbacks upset you, and you bounce back quickly.
Overall, you are typically calm and relaxed - making others feel secure.

Openness to experience:

Your openness to new experiences is high.
In life, you tend to be an early adopter of all new things and ideas.
You’ll try almost anything interesting, and you’re constantly pushing your own limits.
A great connoisseir of art and beauty, you can find the positive side of almost anything.

WHO AM I?

Your Mouth is a Little Big You’re not a total tell all, but you don’t hide who you are either.
You’ve struck a good balance between discretion and sharing.
People know you fairly well, at least on a superficial level.
But you save your most revealing secrets for your best friend… or no one!
WHO AM I?

Your Personality Profile You are funky, outdoorsy, and down to earth.
While you may not be a total hippie…
You’re definitely one of the most free spirited people around.

You are very impulsive - every day is a new adventure.
However, you do put some thought behind all your actions.
Still, you do tend to shock and offend people from time to time!
WHO AM I?

***Thanks to Chicka and Luche :) ***

Ngelamun

Ketika si Bungsu ditanya, “Ndhung, pilih jadi princess kecebong  yang paling cantik se istana atau jadi putri Barbie yang paling cantik se empang ?” Dengan raut setengah optimis setengah mengajuk, dia menjawab, “Enggak ayah badut, aku mau jadi putri Barbie yang paling cantik se  istana..”
He..he… ternyata genetik mau menang sendiri Bapaknya mengalir juga di gendhuk Bungsu.

Si Sulung lain lagi, waktu TK kalau ditanya entar gedhe jadi apa, tanpa ba bi bu dan lantang menjawab, ” Aku ingin jadi Goku!” Walah…
Tapi cita-citanya berubah saat kelas 5 SD, ingin jadi yang satu ini katanya. Waduh…

Memang keinginan kita tampaknya selalu berubah-ubah, ya. Seiring dengan bertambahnya wawasan dan hormon kali,ya.
Atau waktu ? Bukankah bahkan jika subyek, obyek, dan tempat tetap, aksi kita kadang berubah seiring dengan berlalunya waktu ?
Jadi inget waktu masih pacaran, dulu. Waduh, yang namanya ngantar pujaan hati ke Mangga Dua yang crowded gitu semangatnya 45. Tapi setelah 12 tahun kemudian, saat sang pujaan hati meminta hal yang sama, dengan mata dingantuk-ngantukin bilang ke si Sulung, “Nak, tolong temenin ibu,ya..”

Gubrakkkkk…
(terjaga dari lamunan…)

Salah satunya saudara saya…

Ternyata nama binatang paling banyak berawalan dengan huruf “K”, tidak percaya ?
Silakan simak daftar di bawah ini, siapa tau ada sepupu atau misan Anda termasuk di dalam daftar.

Kadal
Kanguru
Kalajengking

Katak

Kakaktua
Kaki Seribu
Kasuari
Kalong
Kampret = sejenis kelelawar alias codot
Kambing
Kate = ayam cebol

Kancil

Kerbau
Kecebong

Kelelawar
Kelabang
Ketam
Keong
Kepiting
Kerang
Kedelai .. eh keledai
Kelinci
Kecoak

Kerapu

Kepinding

Kinjeng = dragon fly
Kijang/kidang
Kingkong
Kilin = binatang mitos di China
Kiwi
Kodok
Komodo

Koala

Kobra

Kroto = anak semut,makanan burung
Kutilang
Kuthuk = anak ayam
Kutuk = nama ikan
Kuda
Kuda Nil
Kutu
Kumbang
Kunang-kunang
Kura-kura
Kuda Laut
Kupu-kupu
Kuntul = sejenis bangau
Kuskus
Kucing
Kukang
dan tentu saja tidak lupa saudara saya juga termasuk : Kethek

Ada lagi ?

KAMU = sejenis manusia (hehehee) ** sumbangan curhatku

Kalkun (Ayam) ** sumbangan theextraordinaryladyna

NB : Ketahuan banget yah kalau kurang kerjaan..

Kacian deh lu, Devil……

Saat family gathering di sebuah pedesaan, si Devil, CEO Darkness Inc, curhat pada temannya Ifrit.

“Fritz, gue sebel deh sama manusia..”,
“Emangnya kenapa,boz?” tanya Ifrit
“Yang namanya manusia itu selalu menyalahkan gue kalo ada apa-apa..”
“Ada apa-apa, gimane maksud bos?”
“Ya gitu deh, asal ada kesialan atau kemaksiatan atau apa pun yang menimpa bangsa manusia, selalu gue yang dituduh ..”
“Wah, masak sih segitu bencinya manusia ama kita,bos”
“Iya, nggak tau tuh, dosa apa gue ama bangsa mereka..” sungut sang CEO.
“Wah, kacau juga ya,bos. Padahal perusahaan kita butuh nama baik ya, supaya makin banyak investor di Darkness Inc….Trus, gimana dong langkah kita,boz?” tanya Ifrit. Maklumlah, sebagai GM Business Development yang baru, Ifrit jadi ketar-ketir kalau target mencari investor tidak tercapai.

“Aku nggak tau lagi deh.. begini dicurigai, begitu nggak dipercaya. Kita selalu jadi kambing hitam kayak mbek ini…Huh, sebel..” Saking sebelnya, ditendangnya pathok (pasak) pengikat kambing milik orang kampung yang kebetulan sedang merumput di dekat situ. Emang sih kebetulan kambing yang sedang merumput tadi warnanya juga hitam, jadi makin membuat kesel dan naik darah si Devil.
“Udah, boz..jangan marah-marah,gitu..ntar stroke malah berabe,..istirahat sini dulu aja yuk,” ajak Ifrit mencoba menenangkan bosnya. Duduklah mereka di atas batu besar dekat tempat kambing hitam tadi merumput.

Alkisah, kambing yang memang sejak tadi terikat di pathok rupanya juga sudah gemes melihat rumput segar di sebelah sana. Tapi apadaya walau sedari tadi dia menarik sekuat tenaga, patok tetap tertancap di tanah. Ya tentu saja sungguh serba kebetulan bagi si kambing karena patoknya ditendang si Devil. Patok jadi longgar, dengan sedikit sendal saja, tercabutlah patok ikatan tadi. Bebas oii…

Maka dengan segera dihampirinya rumput incaran sedari tadi, dilahapnya dengan rakus. Rupanya si kambing hitam ini belum puas juga. Mungkin pikir dia mumpung pathoknya lepas. Dihampirinya pot bunga yang berjejer rapi di depan rumah. Kremus..kremus…dilahapnya bunga warna-warni menarik hati.

“Aduh…. kambing gile, makan sembarangan …Hus..hus..pergi…!,” teriak perempuan muda si pemilik pot bunga. Tapi mana mau yang namanya kambing pergi, namanya juga lagi mumpung, kok disuruh pergi. Lhah nekat juga kambing ini. Tambah berang perempuan muda tadi, sambil berlari ke dapur ia berkata,”Awas kamu kambing. Jangan mentang-mentang kamu kambing kesayangan suamiku, kamu trus bisa seenaknya makan bunga kesayanganku. Kalau sudah jadi gulai dan sate, baru tau rasa kamu…”
Wah, pantesan aja si kambing nglunjak berani ngeyel, rupanya dia memang binatang kesayangan sang suami. Tapi sengeyel-ngeyelnya kambing, tetap saja sore itu kesampaian jadi gulai dan sate.

Saat maghrib tiba, sang suami pulang kerja. Wajahnya agak mendung. Bisa jadi, ojekan sehari ini lagi sepi. Seperti biasa, pulang ngojek dia mencari kambing kesayangan untuk dikandangkan. Lho, kemana kambingnya, kok nggak ada. Waduh, jangan-jangan dicuri orang,pikirnya.

“Dinda…dinda… kambing kesayanganku dicuri orang..”
Dengan santai, istrinya menyahut,”Makanya,bang, kalau punya kambing diurus. Kambing abang tadi menghabiskan tanaman hiasku”
Legalah hati sang suami,”Jadi kambingku nggak dicuri orang, syukurlah…
Sudah engkau kandangi kan kambingku, dinda?”
“Sudah aku masak,”kata si istri sambil mendelik karena sebel sang suami sama sekali tidak menunjukkan perhatian terhadap bunga yang dimakan kambing.

Maka beradu mulailah suami istri tadi beradu mulut.
PLAK! Sebuah tamparan mampir di pipi sang istri.
Bukan main marahnya sang istri, hanya gara-gara kambing saja suaminya bisa main tangan. Malam itu juga dia pulang ke rumah orangtuanya, yang kebetulan tinggal di desa sebelah. Sampai di rumah ortunya, laporan anak perempuan semata wayang ini membuat emosi para saudara laki-lakinya. Tanpa ba bi bu, mereka pergi ke desa sebelah mencari suami adik mereka. Setelah ketemu, tanpa mau mendengar penjelasan si ipar, dihajarlah dia babak belur. Para saudara sang suami tentu saja tidak terima adiknya dihajar tanpa diberi kesempatan menjelaskan duduk permasalahan. Malam itu juga dikumpulkannya saudara-saudaranya sekampung. Mereka membawa senjata meluruk ke desa sebelah menuntut balas. Tak pelak banjir darah terjadi. Korban jiwa berjatuhan.

Melihat itu semua si CEO geleng-geleng kepala sambil mengeluh,”Tuh Fritz, lu lihat sendiri khan, ntar ujung-ujungnya gue lagi yang disalahin dengan jatuhnya korban jiwa ini. Padahal gue khan cuman nendang pathok kambing…”

Kacian deh lu,Devil….. jadi kambing hitam melulu…